Parenting

Ciptakan Sekolah Yang Aman Dari Pelecehan Bagian 2

sat-jakarta.com – Toilet sebaiknya dirancang sedemikian rupa untuk menjaga keamanan siswa. Bagian atas toilet perlu terbuka sehingga memungkinkan orang dewasa untuk bisa masuk demi menolong anak yang terkunci di dalam toilet, misal. Atau antara pintu dan lantai ada celah (sekitar 10 cm) sehingga ketika ada pelecehan segera terlihat. Karena jika di dalam toilet ada lebih dari satu orang akan terlihat dari celah itu. Itu juga gunanya guru piket yang bertugas berkeliling mengawasi.”

– Siswa perlu mendapat Pendidikan Seks Usia Dini, terutama bagaimana menjaga anggota tubuh mereka. Siapa yang boleh memegang anggota tubuh mereka, terlebih bagian-bagian yang sensitif. Anak pun perlu dijelaskan untuk langsung bicara pada orang dewasa terdekat jika ada orang yang memegangmegang tubuhnya. “Ketika mereka dibujuk oleh orang dewasa yang tidak bertanggung jawab, mereka harus diajarkan untuk berani berkata ‘tidak’. Saat anggota tubuhnya akan dipegang, mereka harus berani berteriak dan berlari. Bila ada yang memegang harus segera melapor ke orang dewasa terdekat di sekolah itu. Tekankan untuk tidak perlu takut karena kita akan melindunginya.”

Bila Trauma Tidak Tertangani

Trauma yang tidak ditangani dengan baik dapat memengaruhi pertumbuhan seksual korban. Biasanya korban akan mengalami pertumbuhan seks lebih cepat dibandingkan anak seusianya. Respons atau nafsu seksualnya dapat lebih dini muncul. Ketika melihat adegan romantis di televisi, jika anak lain menonton dengan biasa-biasa saja, namun korban pelecehan seksual bisa terangsang. Pertumbuhan seks yang terlalu dini tidak baik untuk pertumbuhan psikologisnya.

Karena anak belum mampu mengontrol emosinya dengan baik, sementara hasratnya sudah keburu muncul. Kondisi ini dikhawatirkan membuat perilaku seksualnya menyimpang. Ia kemungkinan akan berusaha mencari tayangan erotis di internet yang bisa saja ia melampiaskannya secara fisik pada orang lain. Tak berhenti di situ, kelak setelah dewasa korban pelecehan bisa menjadi pelaku, melakukan pelecehan seksual. Penyebabnya, bisa emosi atau amarah yang tersimpan di alam bawah sadarnya.

Setelah dewasa, ketika merasa power-nya sudah siap ia bisa melampiaskan dendamnya kepada anak kecil lain seperti yang pernah ia alami dulu. Seiring pertambahan usia, kemampuan berpikir anak akan semakin matang. Kejadian pelecehan tersebut bisa memengaruhi pola pikirnya untuk melakukan hal yang sama untuk kesenangan. Gangguan psikologis seperti ini tentu dapat diminimalkan/dihilangkan dengan penanganan profesional.