Parenting

Ciptakan Sekolah Yang Aman Dari Pelecehan

pascal-edu.com – Menanggapi kasus pelecehan seksual pada murid TK yang terjadi di sekolah, Hj. Fitriani F. Syahrul, MSi. Psikolog, menegaskan setiap murid (terlebih para murid TK) seharusnya berhak mendapat keamanan dan kenyamanan di sekolah. “Setiap sekolah pasti memiliki SOP (Standard Operating Procedure) demi keamanan dan kenyamanan para siswanya.

Apalagi sekolah-sekolah internasional umumnya memiliki SOP yang bagus, tinggal pelaksanaannya saja,” tambah pendiri dan Direktur Lentera Insan, Child Development and Education Center ini. Fitriani yang akrab disapa Bunda Fani memberikan sedikit gambaran tentang keamanan di sekolah yang dapat meminimalkan kejadian pelecehan (seksual) di sekolah:

– Setiap murid TK idealnya diantar oleh guru saat akan ke toilet. Kalaupun tidak, harus ada guru piket yang bertugas mengawasi toilet. “Guru piket ini biasanya di-rolling. Anak Tk kan masih ada yang baru toilet training, jadi masih butuh dibantu oleh guru.”

– Toilet anak laki-laki dan anak perempuan sebaiknya dipisah. “Beberapa kasus di toilet sekolah terjadi antarmurid. Apalagi bila sekolah itu terdiri atas TK, SD, SMP, SMA. Ada kasus anak SD yang melakukan pelecehan pada adik kelasnya yang masih TK, kejadiannya pun di toilet.”

– Awasi orang-orang yang masuk ke toilet, karena itulah diperlukan guru piket. “Cleaning service pun harusnya diberi waktu tertentu untuk membersihkan toilet, misalnya, jam 8 atau jam 10. Jadi enggak seharian ada di sana.”

– Demi pengawasan yang maksimal, perbandingan guru dan siswa TK idealnya 1:10 atau maksimal 1:15. Untuk anak-anak yang lebih kecil harus lebih sedikit lagi. Kelas Bermain Besar adalah 1:6 sementara Kelas Bermain Kecil 1:4. “Dengan begitu akan terlihat siapa murid yang sedang keluar atau kenapa si murid lama sekali di luar, intinya guru akan lebih mudah melakukan pengawasan.”

– Guru harus menciptakan komunikasi yang terbuka dengan para siswa sehingga mereka memiliki keberanian untuk melaporkan apa pun yang terjadi pada dirinya. Kalaupun anak di bawah ancaman, guru seharusnya dapat melihat itu dari bahasa tubuhnya. “Setiap guru harusnya memerhatikan siswanya. Sedikit saja seorang siswa berubah perilakunya, harus dicari penyebabnya. ‘Kok anak ini jadi pendiam sejak dari toilet’. ‘Kok anak ini jadi terlihat ketakutan’, ini harusnya diketahui oleh guru.”